Tonaas Hanny Pantouw: LMI Pastikan Warga Papua Di Manado Aman

Tonaas Wangko LMI Pdt Hanny Pantouw 

Manadoaktual.com- Buntut atas aksi dugaan persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, tanah Papua pun membara.

Kerusuhan pecah di Manokwari kemudian meluas hingga ke Sorong. Sejumlah fasilitas umum menjadi korban amuk massa mulai dari kantor DPRD Papua Barat hingga Bandara Sorong.

Bahkan aksi protes datang dari warga Papua yang kuliah di sejumlah daerah di Indonesia. Mereka memggelar aksi demo seperti di Medan, Makasar dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan warga Papua yang berada di Sulawesi Utara?

Dilansir dari jejakpublik.com, Tonaas Wangko Laskar Manguni Indonesia (LMI) Pendeta Hanny Pantouw STh memastikan warga Papua di Sulut aman. LMI selalu siap untuk menjaga agar tidak ada warga Papua di Sulut yang diintimidasi hingga dipersekusi.

“Kita selalu bersinergi dengan aparat dengan teman-teman di sini, kalau mereka (warga Papua, red) terganggu, kami LMI siap membantu. LMI selalu menjaga mereka agar tidak diintimidasi di sini (Sulut, red) apalagi dipersekusi,” ujarnya.

Pdt Hanny menegaskan, bukan cuma warga Papua. Baginya semua warga di luar Sulut yang tinggal, bekerja dan menempuh pendidikan di Sulut harus dijaga dan dilindungi dari perilaku intimidasi dan perkusi dan LMI berada di garis terdepan.

Baca juga:   Jenny Sompotan, Hadiri Pelantikan HKTI Sulut

“Karena LMI selalu siap dan terdepan dalam menjaga dan memperjuangkan kerukunan baik di Sulut maupun Indonesia. Karena LMI komit mengawal NKRI,” tegasnya.

JANGAN TERPROVOKASI

Lebih jauh, terkait kasus diamankannya 43 mahasiswa di Surabaya, Pdt Hanny
menegaskan bahwa apa yang terjadi tidak mewakili semua masyarakat Surabaya melainkan oknum yang tidak bertanggungjawab

Ia berpesan agar tidak ada yang terprovokasi dari pihak manapun terkait kejadian di Surabaya dan jangan percaya hoax.

“Pesan saya yang lain jangan sampai terprovokasi jangan jangan percaya hoax. Saudara-saudari saya di Papua juga harus menahan emosinya.
Saya mengerti mereka tersinggung, akibat dari kejadian tersebut,” katanya.

Pdt Hanny mewanti-wanti, kejadian tersebut tidak dijadikan momentum untuk di-blow up oleh oknum tak bertanggungjawab, apalagi sampai merdeka.

“Jangan sampai di-blow up oleh oknum yang bermain di air keruh. Jangan sampai melebar dan ujung-ujungnya minta Papua merdeka. Stop rasisme, persekusi dan berita hoax demi NKRI,” harapnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat Papua dapat menahan diri. Apalagi dalam waktu dekat di Papua akan digelar
kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Baca juga:   Sebanyak 32 warga binaan Rutan Amurang, mengikuti perekaman e-KTP

“Takutnya saat PON hal ini akan jadi riset image suku, nanti dianggap mana yang dari Jawa itu akan dihantam,” tukasnya.

Ia pun mendorong dan mendukung aparat pemerintah dan kepolisian untuk mengusut tuntas oknum yang diduga melakukan rasisme, persekusi dan menebar hoax.

“Usut sampai tuntas. Oknum yang diduga melakukan rasisme, persekusi dan menebar berita hoax harus diproses hukum,” pungkasnya.

Dilansir dari jejakpublik.com

Bagikan berita ini!

avatar
  Subscribe  
Notify of