Mantapkan Persiapan, Panitia Hari Autis Sedunia Gelar Bimbingan Tekhnis

INewsCrime.Com – Bertempat di Giant Extra Kairagi Manado pada hari Jumat 23/2-2018, Panitia Hari Autis Sedunia Kecamatan Mapanget kota Manado provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan pembekalan untuk para panitia pelaksana.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pakar Autis sekaligus Konsultan Tumbuh kembang anak yakni dr Hesty Lestari.

Adapun Kegiatan pembekalan ini, dikoordinir langsung oleh dr Meiny Manumpil yang juga sebagai panitia pengarah hari Autis Sedunia kecamatan Mapanget kota Manado.Pembekalan ini   sendiri bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi panitia hari autis, yang nantinya bertanggung jawab untuk turun langsung di lapangan guna mengumpulkan data, mengenali ciri-ciri dari anak yang menderita autis.

Dalam pemaparannya di depan panitia yang terdiri dari tenaga medis Puskesmas Mapanget dan sejumlah jurnalis dr Hesty mengatakan bahwa Autis merupakan penyakit pada anak dengan usia 18 hingga 36 bulan dengan ciri-ciri suka menyendiri, kontak matanya minimal, kurang peduli dengan anak lain, kemudian memiliki gangguan bahasa yang berat.

Dalam pembekalan tersebut dr Hesty juga menginformasikan tentang sejarah pertama kali di temukannya penyakit Autis oleh seorang dokter yang bernama leoparner pada tahun 1943. Penemuan ini dilakukan dengan meneliti sekelompok anak-anak yang mempunyai kelainan tertentu. Sebelumnya penyakit autis memang sudah tersebar namun masih belum dikenali oleh banyak orang.

Baca juga:   PT. MSM dan PT. TTN Support Penuh Program ODSK Dibidang Pariwisata

“Penyebab dari pada penyakit autis sampai sekarang belum dapat dipastikan dengan jelas, sudah banyak macam teori menyebutkan berbagai faktor-faktor resiko terjadinya autis, namun belum ada yang bisa menyimpulkan bahwa inilah penyebab autis,” ujar dr Hesty, saat memberikan materi pada panitia hari autis.

“Kalau kita sudah mengetahui apa penyebabnya, maka kita akan mudah untuk melakukan pengobatan secara pasti,”imbuhnya.

“Autis menyangkut gangguan pada perilaku, jadi kita belum tahu penyebab pastinya, hingga nanti kearah pengobatannya pun bersifat terapi rehabilitasi, jadi belum ada pengobatan dengan minum obat dan dinyatakan penderita tersebut akan sembuh,”Tandasnya.

“Pada penelitian terdahulu menyebutkan, diperkirakan angka kejadiannya empat sampai lima ratus dalam 10.000 anak, dan pada tahun 1996 meningkat menjadi satu diantara 1000 anak, Bahkan di perkiran untuk sekarang bisa satu diantara 500 anak ,”Tambahnya.

Menurut dr Hesty, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, Penyakit autis lebih sering di temukan pada laki-laki, dibandingkan perempuan.

Untuk mendiagnosis penyakit autis, masih menjadi suatu tantangan, karena belum ada pemeriksaan penunjang yang spesifik, misalnya pemeriksaan laboratorium.

Baca juga:   Rochman Buka Konferensi Wilayah XII Gerakan Pemuda Ancor Sulut

Lanjut dia, ada sepuluh pertanyaan yang bisa diajukan oleh tim kesehatan dalam mendeteksi apabila si anak menderita Autis atau tidak, mulai dari pertanyaan mengenai permainan yang di mainkan oleh si anak hingga pertanyaan apakah sianak bisa berimajinasi atau tidak. Apabila jawaban dari tiap pertanyaan di jawab dengan tidak maka sianak memang mengalami penyakit autis.

Pemaparan mengenai cara mengenali penderita autis mendapatkan tanggapan dari beberapa pertanyaan panitia autis yang hadir, peserta panitia yang hadir adalah dari dinas kesehatan kota Manado yakni dr Joy dan puskesmas kecamatan paniki serta para jurnalis yang menjadi panitia. (BoB)

Bagikan berita ini!

vote
Article Rating

Bank Sulutgo

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments