Legenda “Reindang Wuuk” Di Desa Raanan Baru Motoling Barat

Foto : Desa Raanan Baru Dengan Latar Belakang Gunung Lolombulan Yang Oleh Masyarakat Desa Raanan Baru di yakini adalah Tempat Reindang Wuuk (lo’lok) sebutan warga setempat untuk Reindang Wuuk

Raanan Baru,iNewscrime.com- Pada satu ketika di salah satu tempat di bagian selatan Minahasa, hiduplah  satu keluarga, si suami bernama Lumoyong dan isteri bernama Sumeseroi. Mereka bersama-sama mengharapkan supaya memperoleh anak sama dengan teman-teman mereka. Tetapi sudah lama mereka bersama-sama belum juga memperolehnya.

Pada suatu hari berkatalah si Lumoyong pada istrinya sumeseroi, ” Apa gunanya kita berdua bersama-sama kalau tidak mempunyai anak. Lebih baik kita berpisah. Saya berjalan ke timur dan kau berjalan ke barat,” ujar Lumoyong.   Jawab Sumeseroi, ” Apakah kesalahanku kepadamu suamiku? Kita tidur bersama-sama apa yang kau buat terhadapku kubiarkan sesuai kemauanmu,” sahut sumesoroi.

Dengan menangis Sumeseroi berkata kepada suaminya agar jangan melarikan diri dari pondok mereka.

“Kata Lumoyong, “kalau begitu kemauanmu saya akan menanti setahun lagi lalu saya keluar dari sini. Kalau dapat yang dimaksud  dan alam pandangku ia seorang anak lelaki yang kuat atau seorang anak perempuan yang cantik akan kubuatkan pondok yang baik, “ujar Sumesoroi pada Lumoyong.

Baca juga:   Micha Paruntu Resmi Dilantik Kembali Pimpin PMI Minsel

Pada suatu ketika si Lumoyong pergi melihat jerat/ perangkap binatang hutan yang dipasangnya. Sudah delapan jelar yang dicarinya, kesemuanya terlepas. Karena kesal Lumoyong memaki,” Lampeng e maka tana’am bii,  Berlelah aku mencari tak ada yang terjerat. Lebih baik aku biarkan dan kembali ke tempat. Katanya dalam hatinya pada jerat yang kesembilan pasti dapat. Setelah dekat ke jerat itu tampaklah tiang jerat tergoyang-goyang lalu ia berteriak, “ehoi.

Sementara itu di dalam pondok Sumeseroi duduk melamun. Selesai memasak ia menunggu suaminya yang belum juga datang. Mengantuklah ia dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dan tidur bersama suaminya. Dirasakan pelukan suaminya kebahagiaan dan kesenangan dinikmatinya sebagai suami isteri dan mengharapkan jawaban apa yang dinati-nantikan. Setelah ia terbangun….e siapakah yang tidur bersamaku, “guman Sumesoroi dalam hati.

Tak lama kemudian pulanglah si Lumoyong. Sudah selesaikah engkau memasak? Barangkali kau hanya tidur-tidur? Saya sudah lapar dan haus,” ujar Lumoyong.

Hari Berganti hari,  Lumoyong melihat perut istrinya makin membesar. Maka bertanyalah Lumoyong pada istrinya, “Mengapa perutmu semakin besar? Itulah akibatnya banyak makan tapi malas bekerja,” kata Lumoyong.

Baca juga:   Bupati TETTY PARUNTU Hadiri Acara Konsultasi Regional Pulau Sulawesi

Pada malamnya mereka tidur bersama. Kemudian Lumoyong dapat meraba ada yang bergerak dalam perut isterinya. Iapun berteriak apa yang bergerak di perutmu? Jawab Sumeseroi, ” Adapun yang bergerak itu adalah anak kecil. Benarkah itu? tanya Lumoyong. Kalau benar tak terbilang,  mudah-mudahan seorang anak laki-laki kuat,” ujar Lumoyong berharap.

Suatu ketika tiba waktunya Sumesoroi akan melahirkan. Berkatalah Sumesoroi pada Lumoyong suaminya. “Sepertinya aku hendak melahirkan, perutku terasa sakit sekali. Setelah siang hari lahirlah anak itu, seorang anak laki-laki rambutnya merah. Kata Lumoyong bukan itu kemauanku. Lalu ia melarikan diri. Ditinggalkannya Sumeseroi dan anaknya di pondok itu. Tak lama kemudian meninggalah Sumeseroi.

Kini tinggallah anak kecil itu sendirian. Karena tidak ada makanan badannya tetap kecil dan pendek. Anehnya anak itu tetap bertahan hidup dan Setiap kali orang lewat di tempat itu dan sempat melihat anak kecil yang berabut merah dan panjang, mereka melarikan diri.

Maka dinamakan tempat itu Reindang Wuuk (Rambut Merah) tempat tersebut terdapat di desa Raanan Baru Kecamatan Motoling.

Baca juga:   Polres Minsel libatkan 100 personil kawal Festival Teluk Amurang

Sumber : Minahasa Tanah Tercinta (Boy E. L. Rondonuwu)

Bagikan berita ini!

vote
Article Rating

Bank Sulutgo

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments