Kebijakan itu Harus Berdasar Pada Kebajikan

Waalaykum salam, wa rahmatullahi wa barakatuh. Masuk, masuk, dan silakan duduk,” kata orang yang duduk dekat pintu masuk warung kopi Mas Wargo membalas salam Dul Karung sambil menyilakan Si Dul duduk di tempat yang semula didudukinya.

“Inilah orang yang bisa kita percaya omongannya. Karena dulu dia adalah seorang yang biasa kami sebut Centeng Pasar Benhil alias Pasar Bendungan Hilir,” sambungnya dengan lagak sok tahu. Dul Karung meresponsnya dengan acuh tak acuh saja.

Seperti biasa, Dul Karung menyambar sepotong singkong goreng kebul-kebul, lalu menggigit lebih dari separo, kemudian meletakkan pantatnya di bagian yang kosong bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk para pelanggan warung kopi itu.

“Bagaimana menurut kau tentang Pasar Benhil, Dul?” tanya orang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Oh jauh lebih baik daripada dulu. Dulu becek, sekarang tidak. Dulu bangunannya seperti bedeng dengan atap campuran antara alang-alang, rumbia, dan seng, sekarang genteng beton.

“Dulu di kiri-kanan Jl Bendungan Hilir bila siang dijadikan tempat menggembalakan ternak kambing dan kuda, sore berjajar pedagang kakilima. Mulai dari penjual kue sampai penjual tekstil.

Baca juga:   Hendra Jacob Di Tangkap Seperti Teroris Di Mapolda, dijaga dengan senjata lengkap

“Hebatnya bila perut mereka sakit dan isinya menuntut keluar, tinggal lari saja ke pinggir kali di belakang jejeran tekstil yang diperjual-belikan. “Semua urusan pun jadi beres. Walau sesekali terdengar suara prepet-prepet seperti bunyi petasan, orang takkan menghiraukannya,” jawab Dul Karung seenaknya.

Beberapa pendengar cerita Si Dul itu tertawa, sebagian lagi menunjukkan wajah jijik.

“Jangan ceritain episode yang itu dong Dul. Kami sedang makan jadi serba salah nih,” protes orang di ujung kanan bangku panjang.

Kemudian suara gelak pun membahana panjang. Terutama dari Dul Karung sehingga ada potongan sisa singkong goreng yang jatuh dari mulutnya.

“Yang kami ingin tahu sejarah Pasar Benhil itu sama atau tidak dengan sejarah Pasar Tanah Abang?” sambung orang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Nenekku pernah cerita bahwa kakek dan nenek beliau pernah membeli batik di Pasar Senen, di Pasar Mester yang sekarang disebut Jatinegara, dan juga di Pasar Tanah Abang. Sedangkan Pasar Benhil dulu tempat aku menjerat burung kuntul, sejenis bangau. Jadi Pasar Tanah Abang itu umurnya jauh lebih tua kalau dibandingkan dengan Pasar Benhil,” kata Dul Karung bersikap sedikit sok.

Baca juga:   Hendra Jacob SIP Tolak Kepentingan Para Oligarki Bubarkan KPK

“Waktu Jl. Jenderal Sudirman baru dibikin satu jalur dari Duku Atas sampai CSW, banyak orang jualan malam Minggu di perempatan Jl Karet dan Jl Jenderal Sudirman. Sekarang kira-kira di depan Hotel Le Maridien.

“Nggak tahu kenapa, sedikit demi sedikit bergeser ke tempat kini dikenal dengan nama Bendungan Hilir itu. Dulu sih namanya Bendungan saja. Nggak ada udik nggak ada hilir.

“Eh, nanti dulu! Mengapa kalian ingin tahu kisah atau sejarah Bendungan Hilir?” kata atau tanya si Dul seperti orang baru bangun dari mimpi.

“Pedagang Kakilima Pasar Benhil kini menuntut diperlakukan seperti rekan-rekan mereka yang jualan di Pasar Tanah Abang. Karena itu kami jadi ingin tahu bagaimana sih sejarah Pasar Benhil itu?” jawab orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Oooo begitu? Kalau soal Pedagang Kakilima Pasar Benhil menuntut perlakuan sama dengan rekan –rekan mereka yang jualan di Pasar Tanah Abang, itu sih gara-gara kebijakan yang tidak bijak dari Pak Gub dan Pak Wagub DKI sekarang. Kalau di Pasar Tanah Abang orang dibolehkan berjualan di trotoar, di semua pasar pun harus begitu juga dong.

Baca juga:   Dandes Tandengan Tebang Pilih,Warga Keluhkan Proyek Pembangunan Jalan

“Bagi para pemimpin, termasuk Pak Gub dan Wagub, kebijakan itu harus berdasarkan kebajikan,” kata Dul Karung sambil ngeloyor pergi.
(syahsr@gmail.com )

Bagikan berita ini!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of