Kebijakan imigrasi Trump Persulit Warga Sulut

 

INewscrime.com – Kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak besar terhadap Indonesia.

Warga Sulawesi Utara (Sulut) yang tinggal di Amerika Serikat adalah salah satu yang mendapat dampak dari kebubakan ini. Sebagai Buktinya, saat ini terdapat 588 warga Negara Indonesia (WNI) terancam dideportasi dari Amerika Serikat. Hal yang tak lazim mengingat banyaknya WNI yang tinggal di AS, berasal dari Sulut.

Hal itu dikatakan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, dalam jumpa pers tentang penanganan WNI di luar negeri yang diselenggarakan di Sulut, Rabu (1/11), kemarin.

Dirinyaa memaparkan, ada tiga jenis WNI yang akan dideportasi. Pertama, mereka yang sedang mencari suaka dan ditolak pengadilan. Dua di antaranya berasal dari Sulut. Yakni Meldy dan Eva Lumangkun yang sementara mengajukan gugatan hukum. Kedua WNI ini tinggal di Negara Bagian New Hampshire, Amerika Serikat.

“Mereka kebanyakan pencari suaka dari korban 98 (era reformasi), tapi ditolak dari pengadilan. Yang jelas mereka harus meninggalkan Amerika Serikat,” terangnya.

Baca juga:   Hendra Jacob Di Tangkap Seperti Teroris Di Mapolda, dijaga dengan senjata lengkap

Kedua, mereka merupakan yang mencari suaka dan sudah mendapatkan hak suaka di AS. Tapi saat suaka telah diberikan pemerintah AS, warga tersebut kembali ke Indonesia, dengan berbagai alasan, salah satunya rindu terhadap keluarga.

“Sehingga otomatis ketika kembali ke Indonesia, suaka yang diberikan dari Amerika Serikat pun batal,” terang Iqbal.

Ketiga, WNI yang menggunakan visa kunjungan. Namun bekerja di Amerika Serikat, bahkan melebihi waktu tinggal. “Jadi otomatis mereka dianggap ilegal,” jelas Iqbal.

Hingga sampai saat ini menurut Iqbal, para WNI yang rencananya akan dideportasi masih menunggu putusan, setelah munculnya kebijakan dari Hakim dari AS.

“Jadi mereka berstatus belum dideportasi. Dan sekarang masih menunggu putusan inkrah dari pengadilan,” jelasnya.

Sementara perwakilan Kemenlu di AS tengah berupaya, mencegah terjadinya dideportasi. Seperti melakukan pendampingan upaya hukum yang masih dilakukan, dalam rangka memastikan WNI dapat tinggal di AS.

“Tetapi kedutaan kita tidak menjamin bahwa mereka akan bisa tinggal di lahan sana (AS). Karena itu adalah peradilan AS, jadi kita harus menghormatinya. Kami juga telah menyiapkan lawyer (pengacara) yang stand by 24 jam di sana. Lawyer digunakan untuk memperjuangkan hak-hak mereka di sana, bahkan juga memperjuangkan dapat tinggal di AS lebih lama,” terang Iqbal.

Baca juga:   Presiden ngga ada takutnya Kedatangan Jokowi jadi pukulan telak bagi teroris di Afganistan

Selain itu pihak Kemenlu melobi beberapa pihak dari tingkat presiden sampai tingkat parlemen ke bawah, untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah AS. “Tujuannya agar dapat diberikan toleransi bagi warga kita yang di AS,” pungkasnya.

Diketahui, pasangan Meldy dan Eva yang merupakan warga etnik Cina beragama Kristen, pergi meninggalkan Indonesia, hampir dua dekade lalu, karena khawatir terhadap dampak tragedi Mei 1998. Sejak tinggal di Amerika, mereka telah memiliki empat orang anak.

“Kami takut pulang. Khawatir dengan keselamatan anak-anak,” kata Meldy Lumangkun seperti dikutip kantor berita Reuters. “Di sini (Amerika) anak-anak aman. (***)

Bagikan berita ini!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of